Minggu, 22 Mei 2016

MENGALI KEBUDAYAAN KAMPUNG ADAT ATAKOWA

Oleh: Marselinus B. Lewerang

Rasional

Tak ada pulau yang terbentuk sekaligus dengan orang-orang yang menempatinya. Dengan demikian penduduk pertama di sebuah pulau adalah imigran dari luar pulau, baik yang datang orang per orang maupun berkelompok. Karena setiap pulau  berbatasan langsung dengan laut maka di tempo dulu media yang membawa seseorang sampai ke sebuah pulau adalah  air dalam hal ini arus laut, rakit atau perahu.

Penduduk asli Lembata, termasuk suku yang mendiami kampung Atakowa juga berasal dari luar pulau. Sebagaimana tuturan lisan yang ditulis kembali Alm. Drs. S.T. Atawolo, disajikan pada seminar budaya Nobo Buto Leragere, 1996. Penduduk asli pulau Lembata datang melalui arus pengungsian besar-besaran dari pulau Nuha ata. Menurut Alm. Ambros Ole Ona,1989.  Nuha ata  adalah sebutan lain dari Lepan Batan.

Tuturan lisan alm. Bp Philipus Polo Lewerang, orang-orang asli Atakowa datang dari arah Bobu. Sebuah daerah sekitar tanjung Suba Wutun, pesisir  selatan Lembata. Konon katanya nenek moyang orang atakowa ini datang dengan sebuah perahu dari pulau lepan bahtan ruha rema. Mereka datang dengan membawa serta peralatan perang seperti blida (parang panjang dari baja) dan gala  (tombak baja), alat-alat pertanian seperti batu asa dan parang,  benda-benda ritual seperti gong dan bohpong (batu bulat yang dipercaya memiliki kekuatan magis).

Mengetahui asal usul penduduk  merupakan begian penting dalam upaya  menggali kebudayaan asli kampung Atakowa. Melalui ini dapat dipahami tentang apa yang menjadi inti kepercayaan, adat isti adat serta sistem pelapisan sosialnya. Memang tidak banyak dokumen tertulis yang mengisahkan tentang kampung ini tetapi  dari tuturan lisan dan catatan-catatan lepas terkait kebudayaan lamaholot dapat diidentifikasi kesinambungan antara  kejadian lampau termasuk situs-situs kebudayaan yang di tinggalkan dengan peradapan sekarang. Atakowa adalah kampung kecil dalam satuan budaya nobo buto dengan sistem adat  yang sangat kuat pengaruhnya terhadap hampir semua sisi kehidupan warga kampung. Dari tuturan lisan dan beberapa situs peninggalan seperti kotak batu di kampung  Lewoeleng, sisa-sisa peninggalan di kampung lama Lewu  tuang dan makna tersirat dalam penggalan syair: kowa liku ledo, ledo todo hinga (Atakowa melindungi Ledoblolong, membuat ledoblolong menetap) diketahui bahwa Atakowa adalah kampung tua dan pertama  di Leragere.

Antara Orang Awan dan Kampung Berkabut
Unsur bawahan terdekat dari  kata “Atakowa” adalah ata dan kowa. Keduanya merupakan kata benda. Dalam bahasa lamaholot ata artinya  orang, sedangkan kowa artinya  awan.  Dari struktur morfologinya ini nama  atakowa  dapat dijelaskan sebagai kampung yang di huni oleh orang-orang yang bersal dari awan.  Menjadi pertanyaan, mungkinkah manusia itu berasal dari awan ?
Secara geneologis penduduk asli atakowa merupakan pecahan  kelompok pengungsi  yang datang dari  pulau Nuha Ata. Sebagaimana catatan lepas   Almahrum  Ambros Oleona (1989), Nuha ata  adalah sebutan lain dari Lepan Batan. sebuah daratan luas antara pulau Alor dan Lembata. Daerah tersebut diperkirakan tenggelam karena bencana hebat gelombang pasang. Dampak dari mencairnya es kutub pada waktu itu. Peristiwa tenggelamnya daratan inilah yang menyebabkan terjadinya pengungsian  besar-besaran. Orang-orang Nuha Ata, sendiri-sendiri atau berkelompok pergi meninggalkan kampung halaman, mencari tempat hunian baru (bang pong, leka duli). Dari tuturan ini jelas bahwa penduduk asli Atakowa bukan berasal dari awan. Lalu mengapa kampung ini dinamakan Atakowa ?

Atakowa adalah salah satu dari delapan kampung hunian di wilayah Leragere.  letaknya di atas ketinggian 500 meter, tepat di  puncak bukit dengan lereng yang panjang dan landai. Posisi topografi ini sangat berpeluang untuk terbentuknya kabut lereng (up slope fog). Jenis kabut seperti ini tidak  temporer, biasanya tetap dan muncul dalam periodisasi waktu tidak berubah. Kabut lereng merupakan ciri khas kampung Atakowa. Entah musim hujan atau kemarau kampung di puncak bukit ini senantiasa diselimuti kabut tebal.

Atakowa memang kampung berkabut.  Hampir 16 jam setiap hari seluruh areal kampungnya  tertutup kabut. Kisaran waktunya antara pukul 16.00 (soreh hari) sampai pukul 07.00 (pagi hari). Pada jam-jam tersebut kampung yang letaknya paling tinggi dibanding kampung-kampung lain di leragere ini sulit terpantau sistem navigasi. Sepanjang kabut masih menyelubungi  kampung  sosok  orang tidak terlihat jelas.  Orang-orang yang berjalan keluar  meninggalkan kampung terlihat seolah-olah muncul dari dalam gumpalan awan. Gejala ini merupakan akar asal muasal penamaan kampung Atakowa. Orang yang berjalan  menerobos keluar  kabut tebal dianggab baru keluar dari gumpalan awan.

Ina Kepakiri Ama Wuanbala
Dituturkan  turun temurun bahwa ketika perahu tumpangannya rusak parah dan  pelayaran  tidak bisa dilanjutkan lagi rombongan pengungsi  Nuha ata terpecah menjadi tiga kelompok kecil. Konon katanya tempat kejadian tersebut diperkirakan sekitar  tanjung suba wutun. Peristiwa ini punya hubungan tuturan dengan terbentuknya tepi). Kelompok pertama dan barang bawaan berupa layar dari daun gebang, alat pendayung dan wuwo (alat penangkap ikan) meneruskan perjalanan menyusur sepanjang pantai ke arah Barat.  kelompok kedua menaiki lereng sekitar teluk waiteba dan liang kape. Kelompok ketiga  memilih arah  melalui  kali sebelah Selatan tepi. Sebagaimana tuturan, barang bawaan kelompok kedua dan ketiga itu sama, yakni berupa alat tenun (ebo, hapi dan huri), batu asa (elu), blida (semacam parang panjang yang digunakan untuk berperang) dan tombak.
Nenek moyang orang Atakowa termasuk kelompok ketiga. Jejak perjalanannya di mulai dari muara, bergerak maju  mengikuti arah  datangnya aliran air. Tentang pilihan jalan susuran ini terungkap melalui penggalan syair :
Lau dai lungu dai
Wae uro mitong tena tahpo balang
Geri gawa tale dori lungu hipong
Moi wae ni mo leko moi wahto ni mo seda
Artinya :
Dari laut dari ujung kali; muara luas perahu pelepah kelapa; naik berpandu tali susuri kali sempit; hindari genangan air, injak di atas batu.
Mencermati kondisi geo fisik sekarang, muara yang dimaksud sebagai  titik awal perjalan adalah daerah genangan air payau yang berhubungan lansung dengan lungu muda. Sebuah sungai kecil yang terbentuk dari penyatuan antara ruas kali belu buto dan mawe.  Pilihan perjalanan selanjutnya  adalah  menyusur  belu buto hingga berakhir di mata air lewu reu, tepatnya sekitar ruas kali mati kepakiri.

Rupanya di kali mati kepakiri rombongan menghadapi jalan buntu. Ada  lereng terjal yang  sulit didaki. Tetua rombongan lalu meminta untuk di buatkan sebilah tombak dari batang bambu (rehpang). Tombak itu lalu dilemparkan ke arah mata air Lewu reu. Sebagaimana tuturan, tombak yang dilempar tetua tersebut  menembus liang mata air, terus merambah dalam tanah sepanjang punggung bukit hingga terpelesat keluar di pucak bukit. Rombongan dipersilahkan untuk melanjutkan perjalanan mengikuti alur tombak.

Lubang  keluar tombak bambu  diperkirakan sekitar pelataran hutan larang   Nara uha. Sekarang bekas lubang itu ditutup dengan timbunan batu. Orang atakowa percaya  bahwa jika tumpukan batu tersebut dibuka bisa terjadi bencana hebat air bah. Dari dalam liang  menyemprot keluar air laut  bersama  sosok-sosok manusia baru dengan macam-macam karakter.
Tentang peristiwa tombak bambu ini terungkap melalui penggalan syair :
Ina kepakiri ama wuanbala
Gu rehpa pou pele gu gala lebo lele
Lewu tuang sa’rang ulung
Bre bao larang wulan lodo hodi hea
Artinya :
Ibu kepakiri bapa wuanbala; tombak bambu tombak tembagaku pasti tembus pasti melintas; kampung tua hunian lama; turun dan tangkap dari atas beringin putih. Syair ini lebih  sering dipakai sebagai mantra adat. Rangkaian kata di setiap lariknya memiliki makna bersayap sehingga agak sulit ditafsir.
Dari penggalan syair “Ina kepakiri ama wuanbala” dapat diidentifikasi bahwa  ada   tokoh yang berperan sebagai  induk semang dan leluhur orang Atakowa. Penggalan ini merupakan sebutan untuk nama sepasang suami istri. Kedua sosok inilah  yang menurunkan suku-suku asli Atakowa. Ina Kepakiri adalah  ibu yang agung, yang melahirkan sosok manusia baru. Ama Wuanbala adalah bapak yang mengayomi, yang menjadikan sosok manusia baru itu bermartabat.

Sebagaimana keterangan lisan dari tetua suku Ole pu’e, Alm. Bp Paulus Lewo, Orang Atakowa mempunyai tokoh kebagaan yang menjadi simbol dan nama besar kampung, yaitu Ina kepakiri dan Ama Wuanbala.  Semua bentuk ritual adat selalu di tujukan kepada kedua Tokoh ini. Diyakini bahwa kedua leluhur ini memiliki peran sebagai perantara dalam hubungan vertikal antara manusia di bumi dengan Ama Lera wulan Tana Ekan.

Ditilik dari struktur kekuasaan dan budaya animisme kedudukan  Ina Kepakiri dan Ama Wuanbala langsung di bawah Lera wulan tana ekan. Benediktus Kada Koten, 1979. Dalam studi tentang Tumbuhnya Kepercayaan Asli Masyarakat Lewolema, mendeskripsikan Lera wulan tana ekan sebagai pemegang kekuasaan tertinggi, sang pencipta yang menjadikan langit dan bumi.
Wujud Ina Kepakiri Ama Wuanbala dalam sistem  ritual  adat kampung Atakowa  disimbolkan dengan  lempengan batu/batu ceper dan tugu batu. Batu ceper = simbol tokoh perempuan sedangkan tugu batu = simbol tokoh laki-laki. Kedua simbol ini   biasanya dipasang berdampingan di depan bagunan O’e (rumah kecil diatas empat tiang yang digunakan untuk menyimpan benda-benda ritual seperti elu = batu asa; bohpong = batu bulat yang dipercaya memiliki kekuatan magis dan gong keramat). Situs-situs ritual ini sekarang tidak ditemukan lagi karena telah dimusnahkan bersamaan dengan masuk ajaran agama Katolik ke wilayah Leragere.

Dalam tradisi adat lamaholot situs ritual berbentuk lempengan atau tugu batu disebut nuba nara. Sebagaimana deskripsi Benediktus Kada Koten, nuba nara  merupakan simbol yang mengambarkan sosok leluhur sekaligus menunjukan wujud yang maha kuasa, yang membuat segala sesuatu ada.

Blowe, O’e, dan Bas’a
Dengan menjejaki alur tombak bambu akhirnya rombongan pengungsi, nenek moyang orang Atakowa tiba dengan selamat di pelataran Nara Uha. Daerah ini berbatasan langsung dengan sisi Timur kampung Atakowa sekarang. Geo fisik wilayahnya termasuk hamparan datar antara dua puncak bukit kecil (owa lewung dan owa tobo). Luasnya kurang lebih 1,5 Ha. Hamparan nara uha didominasi oleh beberapa jenis pohon khas hutan tropis dan tidak ada lapisan hijau penutup permukaan tanah. Ketinggian tajuk hutannya diperkirakan antara 15 – 25 meter.

Secara ekologi formasi hutan nara uha merupakan kantong perangkap hujan. Letak  topografi dan struktur hutannya menyebabkan daerah ini menjadi pusat kondensai uap  air. Sejak dulu hingga sekarang orang-orang atakowa percaya bahwa nara uha adalah sumber air hujan yeng memberikan kehidupan kepada aho manu bine lame (suku, kerabat dan seluruh peliharaan) kampung Atakowa. Hutan nara uha dianggab  keramat, oleh karena itu harus dilindungi turun temurun. Kekayaan hutan seperti kayu, batu dan berbagai jenis hewan di dalamnya tidak boleh diambil atau dipindah tempatkan  baik sengaja maupun tidak disengaja. Diyakini bahwa hutan larang ini memiliki kekuatan mistik yang bisa  melindungi kampung dari bala bencana.

Sebagaimana tuturan dari tetua suku Lape, alm. bp. Thomas Lusi, orang-orang tempo dulu punya kebiasaan untuk berperang dan merebut tanah kekuasaan, oleh karena itu maka pilihan tempat untuk membangun kampung harus benar-benar terlindung dan sulit dijangkau musuh. Pertimbangan inilah yang mendorong  nenek moyang orang Atakowa memilih puncak bukit Bawa lire sebagai tempat tinggal. Letaknya di sebelah Barat kampung Atakowa sekarang. Karena jumlah warga suku kian hari bertambah banyak sementara luas puncak bukit Bawalire tidak seberapa maka kampung lalu di pindahkan ke lereng sebelah selatan bukit Atakowa. Daerah ini sekarang dikenal dengan sebutan Lewu tuang (kampung tua).

Religiositas dalam tata peradapan nenek moyang orang Atakowa sangat kuat. Hampir seluruh aktivitas hidupnya selalu dikaitkan dengan aspek religi. Hal ini terbukti melalui adanya bangunan dan tempat-tempat  yang dijadikan sebagai pusat ritual kampung. Pusat ritual kampung tersebut letaknya  di luar kampung,  berhubungan langsung dengan hutan larang nara uha. Jumlah titiknya Ada  tiga, masing-masing disebut : Blowe,  o’e,  dan  bas’a. Sketsa tata letak dari masing-masing titik seperti di bawah ini.





Dengan memandang nara uha sebagai benteng  pelindung kampung maka blowe merupakan pintu masuknya. Dalam bahasa setempat biasa juga disebut lara wuhtu (ujung jalan).  Blowe  ditandai dengan sebuah tiang kayu dan meja batu sebagai tempat sesajian. Ritual yang biasa dilakukan di blowe,  antara lain :  hapa huang (bertanya; menyelidiki)  dan lo tiwa ohka tuhte (tolak buang, kejar sampai menghilang).


Ritual  Hapa huang dilakukan pada saat menyambut tetamu kampung, baik kelihatan (nyata) maupun tidak kelihatan (roh). Tujuannya untuk menanyakan asal usul serta maksud  kedatangan. Bila asal usul dan maksud kedatangannya baik maka tamu  akan disambut dengan suka cita. Sebaliknya bila bermaksud kurang baik maka ia dipersilahkan dengan hormat untuk kembali ke tempat asalnya.

Bahan kelengkapan yang sering digunakan dalam ritual hapa huang antara lain: buah siri, buah pinang, pucuk lontar kering , daun tembakau kering, tuak (minuman  nira   lontar, kelapa atau enau yang mengandung sedikit alkohol) dan braha (gumpalan kecil kapas  putih).

Sebagaimana penjelasan lisan alm. Bp. Paulus Lewo, Upacara Hapa huang harus dihalui dengan pengucapan syair/mantera sapaan seperti berikut ini :
Mo tuang ubung eting  mo rasa sina lau
Bopihtang mahtang dola lolo
Tede ni ame denge gahing ni ame hodi
Lewu ami owa tobo lelang ami bao lolong
Artinya : Engkau tuan dari Timur, raja dari Barat; di pintu gerbang palang utama; katakan kami dengar gagaskan kami terima; kampung kami owa tobo tanah kami bao lolong.

Setelah pengucapan matera sapaan para tamu dibesihkan dari pengaruh jahat, halangan atau rintangan yang tidak diketahui penyebabnya dengan  bhraha. Upacara pembersihan   ini disebut lew’a. Jumlah braha yang digunakan tujuh buah.  Jumlah ini disesuaikan dengan sasaran masing-masing : 1) ina ama (roh leluhur); 2) nihto woo (roh yang lepas dari raga dan tak dikenal); 3) praing pedateng (arwa orang mati); 4) nihtung nebing (jin penghuni tanah air dan batu); 5) duli paling (jin penghuni pohon-pohon dan hutan); 6) wera belong (roh pembawa bencana berat); 7) wera kana (roh pembawa bencana ringan). Ketentuan jumlah ini berlaku untuk semua upacara tolak bala. 

Siri, pinang, tembakau dan tuak baru  boleh disuguhkan setelah upaca lew’a. Biasanya upacara hapa huang  diakhiri dengan penyambutan tamu dengan tari-tarian meriah (Soga tehte).  

Upacara  di blowe lainnya adalah lo tiwa ohka tuhte. Dilakukan dengan tujuan untuk meminta pergi atau mengusir roh jahat yang mengganggu orang per orang atau seluruh kampung. Proses ritual biasanya disertai dengan pengucapan syair/mantra tertentu dengan  bahan-bahan sesaji antara lain : braha, beras merah, telur ayam dan  anak ayam.

Berikut ini adalah salah satu penggalan syair/mantra dalam ritual lo tiwa ohka tuhte
Mo mala  maa pinang,  ulu pero
Mo mala nihtung nebing, duli paling
Oka, molang, nihto woo, praing pdateng
Huba wera belong, wera kana, nu pahti bingi
Bo pihtang mahtang dola lolo, ebang puse la’wang pue
Pong mai be mu uli alang lewu mara
Ome kowa lama bothtung bao lolong bangan
Ami ina kepa kiri ama wuanbala
Ami limang laeng laeng, eting rega-rega
Artinya : Engkau serupa swanggi, seten pembunuh; Engkau serupa jin penghuni tanah, air dan batu, penghuni pohon-pohon dan hutan; tukang santet, dukun jahat, roh penasaran dan arwa orang mati; Di pintu gerbang palang utama, di atap rumah  alas dinding; Ayo pergi, pulang ke tempat asalmu; kami orang kowa lama bohtung bao lolong bangan; tangan kami bersih, kepala tak punya beban.


Titik  ritual kedua adalah o’e.  Kekhasan di titik ini berupa adanya   bangunan rumah kecil di atas empat tiang kayu yang disebut O’e. Sketsanya seperti di bawah ini : 


Fungsi  O’e antara lain : 1)  Tempat menyimpan benda-benda pusaka  seperti gong pemanggil hujan dan bohpong; 2) Tempat para pemangku adat menjalani tapa brata. Dalam bahasa setempat disebut bua (memencilkan diri, tidak makan dan tidak minum selama 1 – 3 hari).


Ritual yang biasa dilakukan di O’e adalah leta urang ahpung (memohon turun hujan), geu lia mura mabo (semacam sumpah adat dengan taruhan nyawa), dan  ohka tuhte biwang serang (Semacam ritual pernyataan perang). Dari ketiga ritual ini yang paling polpuler dan dilaksanakan hampir setiap tahun adalah leta urang ahpung. Prosesi ritualnya dilakukan sebagai tahap awal dalam persiapan tanam menanam.

Titik ritual kampung yang ketiga adalah Bas’a. Sesuai dengan namanya bas,a merupakan sebuah bale-bale besar yang diberi atap. Fungsinya sebagai tempat berkumpul para lelaki kampung untuk merencanakan sesuatu kegiatan besar yang melibatkan seluruh warga. Dalam kondisi darurat perang bas’a juga digunakan sebagai tempat tidur angkatan perang  sebelum pergi dan setelah kembali dari medan perang. Sketsa bangunan bas’a seperti di bawah ini :




Karena fungsinya sebagai tempat berkumpul maka bas’a sebuah lapangan terbuka yang disebut namang. Arel terbuka namang tempat diselenggarakan hayatan kampung dan bersukaria yang diekspresikan dengan tarian masal beku, kewahela dan oha.

Ritual kampung yang biasa dilakukan di Bas’a adalah muhpu hani ame rago. Ritual ini dilakukan dengan tujuan untuk mengumpulkan seuruh warga kampung diikuti dengan pendataan masing-masing anggota klan.

Selasa, 23 Februari 2016

SUDAH SEHARUSNYA KITA KEMBALI LALU MENAPAK LEBIH TINGGI (Bagian 2)

Pagi ini mentari tak menampakan wajahnya lantaran malu melihat sekawanan awan yang gagah perkasa menari menyelimuti bumi. Tak lama kemudian hujan turun menyapa kampungku, membasahi perkebunan yang telah lelah menanti kehadirannya. Keresahan masyarakat kami akirnya berunjung dan para petani mulai sibuk mengolah lahan mereka.

Aktivitas berkebun sangat rutin dilakukan masyarakat selama musim hujan berlangsung. Kondisi musim  sangat menentukan nasib para petani untuk bisa mendapatkan hasil yang melimpah. Hal demikian berbanding terbalik dengan masyarakat di kota-kota besar. Musim hujan justru menjadi ancaman masyarakat perkotaan karena akan mendatangkan banjir hingga melumpuhkan perekonomian setempat. Kampungku luar biasa bukan? Lebay nih...Hehe

Pekerjaan para petani di kampungku masih bergantung pada musim sehingga pendapatan mereka juga tergantung dengan musim yang ada. Biasanya para petani  memanen hasil pertanian  setiap tiga bulan sekali. Belum lagi alam yang tak bersahabat membuat produktivitas  menurun dan pendapatanpun jelas menurun. Kondisi ini mulai terlihat beberapa tahun belakangan. Perubahan musim yang tidak jelas membuat para petani harus menelan pil pahit. Mereka tak berdaya mengembangkan lahan yang ada dengan keterbatasan pengetahuan dan  modal yang dimiliki.

Bumi terus berputar zaman terus berubah teknologi terus berkembang. Fasilitas mulai mudah ditemukan. Namun keresahan masyarakat di kampungku tak kunjung usai. Terlebih lagi  melonjaknya harga sembako (kebutuhan pangan) menambah beban keresehan para petani yang pada dasarnya mempunyai pendapatan dibawah standar kebutuhan.

Pemerintah daerah yang menjadi harapan  atas problem yang dialami masyarakat memilih diam tanpa memberikan solusi terkait masalah para petani. Pemerintah hanya memberi janji bukan bukti. Para petani justru harus berusaha sendiri untuk mengatasi setiap permasalahan yang dihadapi. Begitu malang nasib petani kami. Mungkinkah anda prihatin dan mau membantu para petani? Ya benar. Sudah seharusnya kita sadar dan berbuat sesuatu untuk para petani sebab dari merekalah kita bisa mengisi perut kita hingga saat ini.

Pemberdayaan masyarakat oleh pemerintah daerah memang ada.  Hanya saja tidak sesuai kebutuhan masyarakat setempat. Program permberdayaan yang dilakukan pemerintah hanya dibuat agar dibilang punya kerjaan. Tindakan ini dilaksanakan hanya sebagai tameng untuk menutupi kebusukan. Tidak ada perubahan yang muncul dan keresahan masyarakat masih saja sama. Sekilas penetrasi yang luar binasa dari pemerintah daerah di kampungku.

Breng..breng..pittpitt..Terdengar suara berisik kendaraan bermotor dan klakson mobil yang memporak-poradakan suasana sekitar. Kelap-kelip lampu yang berada hampir disetiap sudut jalan menentukan identitas sebuah kota. Ditempat inilah para anak muda di kampungku melanjutkan studi strata satu  (kuliah). Menyeberangi pulau dan mengarungi samudra untuk menimbah ilmu. Seiring bertambahnya usia dan pengetahuan membuat sekelompok mahasiswa dari kampungku mulai peka dengan kondisi yang terjadi di kampung halaman. Kegelisahan datang menghantui sekelompok anak muda ini dan kesadaran perlahan mulai muncul dari hati nurani mereka untuk sebisa mungkin membantu dan menjawab keresahan yang dialami masyarakat di kampung halaman.

Rutinitas perkulihan yang dijalani tak mengurung niat mereka untuk glekat lewotanah (berbakti untuk nusa dan bangsa). Akhirnya terbentuklah sebuah organisasi daerah yang menghimpun segenap kaum muda dari kampungku yang berada di kota tersebut. Lewat wadah ini kami mulai sering bertemu, melakukan diskusi hingga menganalisa kondisi yang terjadi kampung halaman.

Dari keseringan berkumpul dan berdiskusi, sekelompok anak muda ini kemudian bersepakat untuk melakukan sebuah tindakan kongkrit melalui kegiatan yang diberi nama “Paket Pulang Kampung” sebagai solusi menjawab permasalahan yang dihadapi masyarakat di kampungku. Tindakan nyata yang dilakukan sekelompok anak muda ini patut diberi apresiasi.Dengan kegiatan seperti ini, keresahan masyarakat perlahan akan terbantu. Resah gelisah yang selama ini dirasakan bisa berujung. 

Mahasiswa (anak muda) adalah golongan berintelek, kaum revolusioner dan di pundak mereka masyarakat menaru tanggung jawab. Di tangan merekalah masyarakat menaru harapan dan di generasi merekalah perubahan itu datang. Ini bukan menyangkut kesadaran namun inilah takdir  sebagai mahasiswa. Pada hakikatnya ini sudah menjadi tugas dan amanat yang harus dijalankan oleh kita; para mahasiswa. Mari menapak lebih jauh untuk hidup yang lebih baik.

Yanto Sait
Ketua Generasi Muda Adonara (GEMA) Surabaya

Minggu, 14 Februari 2016

SUDAH SEHARUSNYA KITA KEMBALI LALU MENAPAK LEBIH TINGGI (Bagian 1)

Senja dikala itu begitu indah menghiasi perkebunan di kampung halamanku. Mata tak jemuh-jemuh menikmati kebun beserta segalah isinya. ‘’Alangkah indahnya alam ciptaan-Mu Tuhan.” Demikian perkaatan yang kusampaikan dalam lamunanku.

Tak terasa malam menghampiri, menyadarkanku dalam lamunan indah. Akhirnya kujajahkan kaki pada setapak nan kecil berkerikil di kelilingi pepohonan kelapa menyaksikan langkahku. Seketika tiba hembusan angin bercampur aduk dengan kicauan burung menjadi satu; menghasilkan suara harmonis menghantar perjalanan pulangku.

Kampungku merupakan daerah agraris; daerah dengan limpahan hasil pertanian dan perkebunan. Masyarakat hidup dari lahan ini sampai bisa menyekolahkan anak-anak hingga ke jenjang perguruan tinggi. Hebat bukan? Bukan hanya itu saja, kampungku juga menyimpan banyak keistimewaan yang lain seperti keragaman agama, suku dan budaya yang membuat kampungku menjadi berwarna seindah pelangi di kalah hujan berlalu. Perbedaan adalah kekuatan masayarakat selama proses kehidupan berlangsung; ’’berbeda tapi tetap satu’’. Toleransi yang begitu tinggi dan memegang teguh nilai kekeluargaan yang lulur menjadikan kampungku bagaikan surga dunia.

Waktu terus bergulir, tahun terus berganti, haripun berlalu. Datanglah sebuah masa yang dikenal dengan modernisasi; “hi serem.” Masa ini datang menggerogoti zamanku dimana semua hal yang kunikmati dulu perlahan mulai habis dikulitinya. Tak kujumpai lagi jengkal, terima, inggo, kasti dan masih banyak yang lainnya. Jengkal dan terima adalah permainan kanak-kanakku dulu waktu masih berusi 6-15 tahun. Apakah kalian masih ingat permaianan tersebut? Namun kini hilang ditelan modernisasi. Anak seusiaku dulu sekarang lebih memilih bermain handphone dan iphone, sehingga membuat mereka menjadi makluk individualis. Bukan hanya itu saja masa ini datang dan mulai merapuhkan keharmonisan dan kekeluargaan masyarakat.

Budaya warisan para leluhur teracam oleh masa ini; tak ada kebersamaan, tak ada saling membantu dan semua menjadi invidualis. Jelas terlihat masyarakat di kampungku mulai bersaing dan berjuang keras untuk masa depan anak mereka. Semua bersusa payah membanting tulang, mengeluarkan keringat tanpa henti agar anak-anak mereka bisa sukses dikemudian hari. Cara yang dilakukan masayarakat di kampungku adalah menyekolahkan anak-anak mereka setinggi mungkin. Dengan anggapan bawah semakin tinggi sekolah yang digapai semakin tinggi pula kesejataran yang didapatkan. ’’Anak, sekolahlah dengan benar dan baik agar kalian tidak seperti kami yang tiap harinya berkebun.’’ Pesan orang tua kepada anak-anak mereka sebelum berangkat melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Apakah anda juga mendapat pesan seperti ini? Ya, mungkin hampir semua kita mendapatkannya.

Mindset yang tercipta pada masyarakat kami bahwa untuk hidup lebih baik adalah menjadi seorang PNS (Pegawai Negeri Sipil) karena dinilai pekerjaan ini lebih ringan dan mempunyai gaji tetap. Kompetisipun dimulai; “ayo bro, bersiap-siap yang kalah akan tersikir”. Masyarakat yang melanjutkan sekolah (kuliah) dari tahun ke tahun terjadi peningkakatan. Persaingan semakin ketat dan kompetisi semakin memanas. “Woalah kaya piala dunia aja nih.”Semua ketakutan dan mulai belajar segiat mungkin untuk mendapatkan skil dan pengetahuan yang mumpuni. Namun keheranan muncul di benakku; “kok yang kuliah jurusannya kesehatan dan keguruan semua.Terus nanti mereka mau kerjanya dimana sedangkan kampungku memiliki rumah sakit dan sekolah yang terbatas”. Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi nantinya?

Dan pada akhirnya tiba masa dimana semua orang tak menyadari akan kedatangngannya; “pengangguran.” Ya..pengangguran kini kampungku menjadi lahan para sarjana merinti piluh, membasu tangis dan menutup tawa. Pengangguran merebak luas hingga sebagian tidak sanggup menahannya dan memilih untuk mengaduh nasib di tanah rantau. Bagaimana mau sanggup jika para sarjana ini mempunyai keterbatasan lahan untuk bekerja. Keterbatasan ini membuat para sarjana menjadi tenaga suka rela yang bekerja tanpa dibayar; ”woalah-woalah. Semakin tinggi sekolah kitakan semakin sejatrah kok terbalik sih”.  Mau tidak mau ya dijalanakan oleh para sarjana di dikampungku dari pada dibilang tidak berpendidikan. Lahan yang masih mungkin menampung mereka adalah sektor pertanian dan perkebunan namun sayang mereka tak menyukai pekerjaan ini karena berstatus orang yang punya pendidkan tinggi. ”Gengsi bro! Kita kan orang yang berpendidkan. Ya udah. Nganggur aja dulu ya, bro!”

Hiruk-piruk suasana di kampungku membuat masyarakat mencari jalan pintas mendapatkan pekerjaan yang layak sesuai basis pendidikan. Cara yang di tempuh adalah mendekatkan diri pada orang-orang yang mempunyai pengaruh di daerah agar bisa diberikan pekerjaan. “Wani piro, bro?” Inilah realita di kampung halamanku. Skil dan keterampilan menjadi persyaratan terakhir dalam memperoleh kerja. Persyaratan pertama adalah “orang dalam.”. Benarkan? Mungkin di kampung anda juga seperti ini. Budaya yang memalukan dan mampu merusak karakter masyarakat. “Keluarga ya keluarga jangan dibawakan soal urusan pekerjaan, karena kita punya hak yang sama.”

Sepintas muncul dari mulutku kepada temanku yang baru pulang melamar kerja. Begini cerita temanku: “selamat siang pak. Saya kesini mau melamar kerja. Apakah masih ada lowongan?” Jawab si pegawai,“siapa yang menyuruhmu kesini, nak?” Temanku bingung dan hanya memberinya surat lamaran lalu pulang. Beginilah kampungku sekarang.

Kampungku dikenal dengan sektor primernya yaitu pertanian, perkebunan dan perikanan dan sektor ini banyak menyerap tenaga kerja usia produktif. Namun sayang,  tenaga kerja yang terserap disektor ini banyak yang tidak mempunyai ijazah dan hanya tamatan sekolah dasar maupun sekolah menengah pertama, yang membuat keterbatasan pengetahuan mereka dalam memperluas lahan yang ada. Inovasi yang diharapkan untuk mampu mengubah kehidupan mereka tak kunjung tiba karena keterbatasan pengetahuan. Keterbatasan ini dimanfaatkan oleh para tengkulak untuk menabur benih pada sektor ini. Tengkulak sesuka hati menaruh harga pada hasil komoditi. Masyarakat mau tidak mau harus menjualnya meski dengan harga yang rendah sebab masyakat mempunyai kebutuhan yang harus dipenuhi untuk melangsungkan hidup.

Kita dilahirkan dari keluarga petani, dari kecil kita suda belajar berkebun. Sudah seharusnya kita kembali ke kebun dan mengembangkan potensi yang ada. Kenapa? Karena potensi terbesar daerah kita adalah pada sektor primer dan wajib kita kembangkan. Sebab orang-orang yang terlibat didalamnya adalah orang tua kita; bukan berarti kita kembali ke kebun dan menjadi petani. Namun bagaimana tanggung jawab kita terhadap para petani yang sudah bersusah  payah menyekolahkan kita dari hasil pertanian dan perkebunan. Bersambung.........

Yanto Sait
Ketua Generasi Muda Adonara (GEMA) Surabaya

Sabtu, 16 Januari 2016

JIKA PENELOPE CRUZ DAN/ATAU JULIA ROBETS TELANJANG

(Globalisasi Dan Siasat Kita)

Jika kita sulit memahami apa itu globalisasi, maka cari saja penjelasan dalam dunia mode: apa itu pakaian atau potongan rambut, maka menjadi sedikit lebih jelas "potongan" globalisasi itu.

Jika di Paris, yang terkenal sebagai kota mode dunia, orang cendrung menyukai warna merah dan potongan rambut cepak untuk model pria maupun wanita, maka di seluruh dunia semua orang muda cendrung memakai baju berwarna merah dan berambut cepak. Dunia pabrik kainpun dengan segera merubah warna-warna kainnya untuk menyesuaikan kecendrungan di Paris.

Kecendrungan ini kadang-kadang sulit dipahami karena pada dasarnya semua manusia itu tidak sama dalam segala hal : selera, gaya hidup, kekuatan ekonomi, pemikiran. Tapi kenapa kita menyukai sesuatu yang bersifat penyeragaman?

Ide "sense of belonging" memberi jawab. Bahwa "rasa termasuk ke dalam suatu kelompok", juga adalah kebutuhan, sama seperti orang butuh makan nasi, minum teh botol. Des, untuk menjadi sama dengan seorang model di Paris, dalam hal pakaian dan potongan rambut, juga adalah kebutuhan, Tanpa itu, mereka merasa asing di tengah dunia yang seragam. Dan lebih para lagi, merasa udik dan inferior.

Persoalannya, batas antara mengikuti trend dengan kelatahan menjadi sangat tipis, dan cendrung latah. Globalisasi bukan hanya berarti kita harus latah mengikuti trend yang berlaku di Paris. Globalisasipun memberikan peluang bagi setiap orang atau setiap bangsa berdiri di atas tradisinya, tanpa harus menjadi tradisional, dan memperkenalkan tradisinya itu kepada dunia dan mengatakan: inilah kami, kita memang berbeda.

Tanpa ini, suatu saat kita justru membayar ahli sejarah untuk merekontruksi tradisi kita yang kita tingggalkan dan mencari siapa kita di tengah penyeragaman. Karena kita tidak tahu siapa kita : orang Barat Pariskah, Orang Timur Tengah Arabkah, atau orang Timur Nusantara.

Lihatlah sebuah contoh kecil ini. Dalam pertemuan dunia dimana pemimpin-pemimpin negara dari berbagai negara berkumpul. Pemimpin negara dari India, Philipina, Arab Saudi, Eropa,dan bbrpa negara dr Afrika paling mudah dikenali karena mreka berpakaian sesuai tradisinya. Tetapi pemimpin atau pejabat-pejabat negara kita sulit dikenali sampai ada penjelasan dari MC bahwa seseorang yang baru disorot kamera tv itu pemimpin dari Indonesia, karena berpakaian ala Eropa.

Sebenarnya globalisasi itu tidak menghendaki penyeragaman yang berkiblat ke Barat atau kemanapun. Globalisasi menghendaki kitapun mengglobalkan tradisi kita sehingga dikenali dunia, jangan malah berlari meninggalkannya.

Jika kita berlari meninggalkan tradisi kita, dunia akan menangis karena kehilangan suatu kebudayaan yang pernah ada. Dan ini butuh usaha besar, dana besar untuk merekontruksinya. Globalisasi menghendaki kita menyumbang sesuatu yang baik dari kita ke dalam kehidupan global sehingga jadi sebuah mosaik yang lebih hidup, lebih berwarna dan lebih kaya.

Persoalannya, apakah setiap kita atau setiap bangsa mensiasati globalisasi dengan benar? Apakah setiap kita atau setiap bangsa sudah cukup "percaya diri" untuk mengatakan : inilah aku - inilah kami, kita memang berbeda? Apakah setiap kita atau setiap bangsa sudah cukup percaya diri untuk mengatakan itu? Negara kita melalui Presiden kita, Bapa Jokowi telah melakukan itu dengan memperkenalkan batik dan motif-motif Nusantara yang lain termasuk "nowin" Adonara ke dunia.

Nampaknya kita yang di bawa masih harus terus belajar untuk percaya diri dan "menjadi diri sendiri" untuk mensiasati globalisasi dng benar, agar kita tidak jatuh menjadi latah dan hilang dalam penyeragaman. Sebab, globalisasi itu bgitu dahsyatnya. Kalau tidak percaya, lihatlah. Di suatu hari kemarin, jika Demi Moore atau Eric Cantona membotaki kepalanya, maka ribuan bahkan jutaan anak muda putra dan putri di seluruh dunia membotaki kepalanya dan berkata kepada orang tua mreka dngn bangga bhw ini adalah mode rambut paling muktahir hari ini.

Globalisasi ini, bila kita kehilangan kekeritisan, jadi sangat menakutkan. Bila ada orang iseng yang punya duit banyak membayar Penelope Cruz dan atau Julia Robets untuk telanjang dan berlenggang di jalanan kota Paris dan New York sambil berteriak : "fredom of clothes”, hanya untuk membuktikan betapa dahsyatnya globalisasi dan kiblat globalisasi adalah disana, bukan di sini, apa yang terjadi? Apa yang terjadi dengan putra-putri kita yang terlanjur menjadi "sama dengan mereka dalam hal mode" sebagai suatu kebutuhan layak orang makan-minum dan menghirup udara? Apa yang terjadi?

Orang-orang kritis dan penuh percaya diri pasti tidak akan mau jadi "domba-domba dungu" yang digelandang ke sana kemari. Dan oleh karena kita bukanlah domba-domba apalagi dungu, maka mari kita buktikan bahwa kitapun bisa mensiasati globalisasi dengan benar. Dan bila Penelope Cruz dan atau Julia Robets jadi benar-benar telanjang, mereka telanjang sendirian. Dan mereka tidak sedang membuktikan apapun juga. Kecuali bahwa mereka memang benar-benar berkelamin perempuan. Apalagi, memperjuangkan sesuatu? Idealisme, tidak! Kebaikan bersamapun tidak.

da Ama Nu'en Bani Tulit
Mutiara Dari Woka Belolon


Selasa, 12 Januari 2016

PREMANISME POLITIK SEBAGAI KETIDAKDEWASAAN BERPOLITIK

Oleh: Ryko De Buser

Di Flores Timur (Flotim) saat ini, situasi semakin membahana dengan gejolak dan isu-isu Pilkada, berbagai jagoan dengan caranya masing-masing mulai menampakan diri mereka diatas permukaan. Parah komunikator politik sudah mulai heboh dengan mengobral kata-kata. Ya, lebih tepatnya, bermain kata-kata (language game).

Semua calon berupaya terlihat sempurna di mata masyarakat Flotim. Dalam teori dramaturgi Erving Goffman, panggung depan (front stage) kandidat dikemas sedemikian rupa untuk menyihir khalayaknya guna mendapatkan kesan positif atau dalam bahasa Goffman disebut sebagai impression management (manajemen kesan). Padahal, apa yang dipertontonkan di depan panggung itu hanya sekadar drama belaka guna pencitraan politik(political imaging).

Semua momen akan dimanfaatkan semaksimal mungkin. Setiap tim sukses dari tiap Paket calon juga bekerja ekstra menarik hati masyarakat. Terjadilah pertarungan janji-janji membual yang terkadang jauh dari nalar kita. Bualan politik ini seolah dianggap hal yang wajar dalam konteks berpolitik. Tidak salah memang seperti bahasa Kopong Kese kalau sebagian besar aktivitas politik itu merupakan permainan kata-kata.

Namun karena terlena dengan motivasi mendapatkan dukungan politik sebanyak-banyaknya, kadang kala pilihan kata yang bertendensi mencari-cari kekurangan lawan politik seolah menjadi senjata pamungkas. Ujung-ujungnya, kontestasi politik yang seharusnya menjadi sarana mengedukasi masyarakat berubah haluan menjadi ajang pertunjukan kekerasan dan premanisme politik.

Penggunaan kata-kata sindiran bahkan berbau SARA seringkali menjadi tontonan kurang bijak termasuk melalui media sosial. Tidak hanya berhenti pada kekerasan psikis dan kekerasan simbolik saja. Berbagai kekerasan fisik antar massa pendukung juga seringkali mewarnai setiap perhelatan pesta demokrasi di tanah air tercinta khususnya Flotim. Munculnya kekerasan dan premanisme politik ini sesungguhnya dapat dibaca sebagai bentuk dari ketidakdewasaan berpolitik. Karena itu, Kopong Kese mengklaim kalau praktek politik saat ini adalah yang paling aneh, paling absurd (tidak masuk akal), paling unik dan sekaligus paling sulit diramalkan.

Bagaimana Membangun Komunikasi Politik yang Beretika dalam Pilkada? Membicarakan etika maka pikiran kita akan tertuju pada akhlak, moral, nilai-nilai yang bisa membedakan apa yang baik dan apa yang buruk dalam masyarakat. Etika dalam masyarakat juga berguna sebagai penuntun bagaimana seharusnya kita menjalankan kehidupan ini. Hemat saya, membangun komunikasi politik yang beretika merupakan satu-satunya solusi mengembalikan pilitik ideal di daerah kita. Caranya bagaimana? 

Pertama, bangun komunikasi politik yang mindfull. Seorang komunikator politik yang dewasa bisa dilihat melalui perilaku dan tutur katanya. Tidak harus menghabiskan seluruh energi untuk melakukan pengelolaan panggung depan yang berlebihan untuk menaikan pamor, jati diri, dan bahkan citra politiknya. Bersahaja, tidak pura-pura,rendah hati, tulus, dan santun dalam menyampaikanpesan politik, justeru itu yang disukai rakyat.

Kalau selama ini ia dekat dengan rakyat, menunjukkan karakter jujur, dan berpihak pada rakyat kecil, maka dukungan politik dengan sendirinya akan diraih. Konsep Kopong Kese tentang mindfullness rasanya juga relevan untuk komunikasi politik yang beretika. Karakteristik berkomunikasi yang mindfull mengandung makna bahwa seorang komunikator politik perlu mengedepankan apresiasi, tidak apriori terhadap lawan politik, tidak hanya mencari keuntungan diri-sendiri, perhatian pada situasi dan konteks komunikasi politiknya, dan open minded sehingga tidak terjebak dalam perangkap politik identitas dan transaksional.

Kedua, pencerahan politik. Ujung tombak kemenangan kandidat adalah tim sukses. Merekalah yang bekerja di belakang layar untuk menyukseskan paket calonnya guna mendulang suara. Selain tim sukses, keberadaan simpatisan juga ikut mewarnai semaraknya aktivitas politik. Nah, simpatisan dan atau massa pendukung ini biasanya cenderung fanatik. Ini akan memicu kericuhan Pilkada. Karena itu, untuk membangun komunikasi politik yang beretika maka setiap paket calon bupati dan wakil bupati harus bertanggungjawab memberi pencerahan politik tentang pentingnya komunikasi politik yang damai dan simpatik bagi tim sukses dan massa pendukungnya.

Ketiga, netralitas media. Tidak dapat dipungkiri bahwa media mempunyai andil besar dalam proses komunikasi politik sebelum, selama, dan setelah proses Pilkada. Hanya saja, Media yang tidak bertanggung jawab berpotensi “ditunggangi” oleh kelompok-kelompok tertentu untuk tujuan membangun opini publik dan propaganda politik yang menyesatkan dan tidak beretika.

Karena itu, membangun komunikasi politik yang beretika juga butuh pengertian baik dan komitmen institusi pers dalam melakukan peliputan. Masyarakat sangat menaruh ekspektasi yang positif pada media untuk tetap berdiri pada posisi yang netral dan tidak memihak. Dengan demikian, kehadiran media tetap senantiasa berada pada koridor yang sesungguhnya sebagai saluran integrasi bangsa dalam turut memberikan edukasi politik yang baik bagi masyarakat.

Bila ketiga hal ini diperhatikan maka niscaya aktivitas komunikasi politik menjelang Pilkada menjadi lebih bermartabat. Berbagai kisruh, kekerasan dan premanisme politik di daerah kita tercinta dapat diredam. Sekali lagi, kuncinya,butuh kesadaran dan pengertian bersama semua pihak untuk menciptakan iklim komunikasi politik yang baik guna mewujudkan masyarakat yang dewasa secara politik. Semoga!

Rabu, 23 Desember 2015

PULANG KAMPUNG

Oleh: Sugali Adonara

Seperti dugaan Maria sebelumnya, tak ada matahari setelah hujan. Sore menyergap dengan cepat dan langit begitu bersih dengan saputan awan pastel sedikit kemerahan, halus serupa sapuan kuas seniman. Tanah basah berwarna-warni, cokelat, merah dan hitam. Rumput-rumput lebih hijau, sedangkan yang merangas karena kemarau lampau menumbuhkan harapan pada tunas-tunas kecil baru.

Langit segera kelabu. Pelan-pelan menghitam. Lalu bintang keluar satu-satu. Seperti kata orang tua-tua, hujan di siang hari akan melahirkan cahaya di malam hari. Maria melihat kerlap-kerlip yang asyik masyuk dalam khusyuk. Dan kemudian akan ada bunyi bertalu-talu dari rumah-rumah berdinding bambu. Samar-samar dari celah bambu, cahaya lentera menegaskan malam yang dingin. Memberi kehangatan. Menemani ina-ina mengolah jagung titi. Jagung titi ini nama dari makanan khas orang-orang kampung Maria. Lebih nikmat dari beras. Bila disuguhkan dengan segelas kopi atau teh bersama sayur-sayur olahan seperti rumpu-rampe khas kampung, aromanya akan meminta lambung segera diisi. Kadang juga ina-ina menyuguhkan mudu, salad kampung yang asam dengan sedikit rasa manis bercampur pedasnya cabe merah. Jagung titi adalah sebuah pengganti bila beras terlalu mahal.

Pria-pria akan memilih duduk di beranda panjang, di atas bale-bale bambu sambil berselimut dengan sarung tebal. Mereka duduk berkelompok dan saling bercerita tentang apa saja, entah itu soal kebun atau isu kampung sebelah yang berseteru dengan kampung di sebelahnya lagi. Mereka melepas lelah setelah seharian di kebun dengan kopi dan rokok koli yang segera akan membuat batuk kalau tidak terbiasa dengan aroma dan rasanya.

Beberapa anak kecil keluar bermain. Mereka menikmati cerahnya langit setelah hujan seharian. Berkejar-kejaran di tanah lapang tengah kampung hingga ke beranda balai kampung. Setelah itu, mereka akan bubar dengan sendirinya. Berlari ke rumah masing-masing atau saling mengajak untuk bersinggah rumah. Makan jagung titi. Berbagi tawa terakhir sebelum ina dan ama menyuruh segera tidur.

Kemudian kampung akan sepi. Pada saat itulah Maria menyukai suara jangkrik atau lolongan anjing di kejauhan. Karena itu pula, Maria suka pulang kampung untuk sekedar menikmati keramaian yang otentik.

***

Anak-anak kampung, mereka bermain karena itulah dunia mereka. Mereka tertawa karena begitulah mereka menyikapi. Tidak ada gadget atau televisi yang mengikat kaki atau mengurung liarnya mata. Mereka harus melihat hal-hal luar biasa di luar sana, di celah-celah pohon kopi atau pelepah-pelepah kelapa yang berguguran. Mereka mau berbasah dan berkotor kaki melintasi kali atau petak kebun sayur.

Sementara itu pria yang dewasa-dewasa memikul cangkul dan parang ke kebun. Membersihkan dan memberi batas secara tradisioanl pada lokasi-lokasi yang akan ditanam. Dan pada satu kesempatan, mereka akan bersuara seperti pemburu, melengking sambil mengetuk leto hingga menggema pada pucuk-pucuk pinang. Maka bersahut-sahutlah suara, mungkin satu dua orang, tapi kadang mereka yang kebunya berdekatan akan membuat suasana sangat ramai. Mereka hanya saling menyapa, meski antara pondok dengan pondok berjarak ratusan meter.

Maria sering bertanya-tanya mengapa kampung begitu sepi namun menyimpan keramaian yang otentik. Perempuan-perempuan dewasa bahkan yang lebih muda akan bangun pagi-pagi sekali dan menyiapkan makanan, memanasakan yang tersisa semalam tadi, membuat teh dan kopi dan memeriahkan bale-bale di ruang tengah rumah dengan aneka makanan. Lalu pria-pria akan bangun sebelum kabut tersibak cahaya tersisa. Sebelum mendung musim penghujan menggantung tebal. Juga sebelum ayam mematuk embun sisa-sisa.

Ina Prada, nenek Maria, melakukan hal yang sama. Tak peduli meski suaminya, ama Kopong, sudah lama tiada. Bangun pagi sekali dan membopong tubuh bungkuknya oleh karena usia, mulai beraktivitas seperti perempuan-perempuan kampung lain. Dia berlaku seolah suaminya itu masih ada. Tapi kata ama Yohanes, ayah Maria, seorang ina tidak akan berhenti, karena pengabdian sesungguhnya adalah pada kehidupan. Tungku yang hidup adalah simbol kekalnya nama seorang suami.

Maria suka melihat laku neneknya. Sejak sepuluh tahun lalu, saat Maria masih puber, kakenya mati karena sakit kanker. Ayahnya sudah berupaya keras agar ama Kopong bisa lebih lama melihat Maria – paling tidak – hingga sedewasa ini. Tapi kata ayah Maria, tak ada koda yang bisa dilawan. Dan begitu saja kakeknya pergi.

Sudah sejak dulu, perempuan adalah tongkat kukuh bagi ketimpangan pria. Oleh lewo tanah perempuan punya tempat sendiri yang agung. Suatu kali Maria diberitahukan ayahnya tentang hal itu:

“Perempuan kampung kita adalah pejuang sejati. Mereka bekerja dua kali lebih berat dari kaum pria. Zaman dulu, ketika masih terjadi begitu banyak perang antar kampung dan suku, perempuan adalah pertahanan terakhir kedaulatan sebuah kampung. Ada aturan yang tak boleh dilanggar: perempuan tidak boleh dibunuh. Dan mereka, perempuan dan anak-anak kecil ini menyelamatkan garis darah kaumnya.”

Maria makin paham mengapa begitu banyak janda di kampungnya yang bertahan dengan kondisi paling menyedihkan sekalipun. Tidak seperti kakeknya yang tetap menjadikan neneknya sebagai satu-satunya istri, banyak janda lahir dari rahim ketimpangan. Ketimpangan situasi sosial dan keadaan ekonomi yang tidak lagi kontekstual seiring pergeseran zaman. Mereka menjadi janda karena suaminya merantau atau karena ditinggal pergi kepada istri yang lebih muda.

“Kampung tidak lagi seperti dulu Maria. Suasananya mungkin masih sama. Tapi tidak dengan sendi-sendi yang menopang nafas kampungnya. Tidak seperti zaman dimana sekarung beras atau sebotol minyak goreng bisa diganti dengan beberapa buah kelapa.

Setelah dunia menjadi sangat modern, kampung berubah menjadi sebuah gambar besar tentang utopia sosial. Kau sudah besar Maria, dan harus tau bagaimana kampungmu ini berdiri di atas wadas yang kukuh namun berbadan renta. Bukan karena usia, tapi karena modernisme yang diterjemahkan semena-mena oleh yang punya kepentingan. Setiap kali kau pulang kampung kau akan bertemu dengan perubahan.”

“Bagus bukan, ayah. Perubahan menjadi tonggak kemajuan. Kemajuan yang positif tentunya. Saya melihat dengan jelas kampung kita berubah dan memberi beberapa dampak positif. Misalnya, jalan yang bagus sekarang ini menjadi media penopang distribusi produk pertanian. Lebih lancar dan lebih cepat.”

“Seharusnya. Semestinya perubahan itu adalah hal yang bagus. Tapi perubahan yang semena-mena itu tidak bagus. Coba kau lihat kampung Betawi di Jakarta. Mereka terasing di tanah mereka sendiri. Begitu juga yang sekarang sedang terjadi di kampung kita. Jalan-jalan bagus dibangun dan kendaraan bisa masuk dengan suka hatinya ke kampung ini. Petani tidak perlu lagi menyewa kuda atau gerobak besar untuk ke pasar. Itu bagus, bagus sekali. Namun bagaimana bisa itu meyakinkan kalau ternyata orang kampung harus bekerja sepuluh kali lipat lebih berat agar bisa sejahtera? Semua yang kota minta dan butuhkan datang dari kampung. Tapi kampung tidak merasakan makna dari gencarnya pembangunan ini. Jalur transportasi dibangun hanya untuk menopang akumulasi arus modal dari kota yang sudah sumpek ke kampung yang masih memberikan ruang-ruang pengisapan.”

Maria memaklumi ayahnya. Betapa kolotnya sang ayah, menurutnya. Maria melihat bahwa orang-orang kampung menerima banyak hal yang baik. Jalan-jalan baru yang dibuka menjadi akses bagi petani di kampungnya itu pergi dan menjual hasil taninya dengan lebih mudah. Praktek pengisapan petani, menurut Maria, harusnya diperangi oleh pemerintah dengan produk-produk aturannya. Tidak seharusnya perubahan disalahkan. Kemajuan itu mutlak – menurut Maria – dibutuhkan untuk merubah peradaban ke arah yang lebih baik. Tapi ada suatu hal yang mengganjal pikirannya. Dia bertanya kepada ayahnya:

“Ayah, mengapa orang kampung tidak berubah? Maksud saya, tidak seperti masyarakat yang hidup dalam zaman modern biasanya.”

Ama Yohanes membetulkan duduknya. Lalu dia memandang mata kecil putri sulungnya itu dalam-dalam.

“Sebuah kampung tetaplah sebuah kampung, Maria. Kota tumbuh dari kampung, hanya karena alasan-alasan ilmiah tertentu kampung bisa tumbuh menjadi kota. Karena kebutuhan. Kebutuhan yang masuk akal tentunya. Tapi pada dasarnya, realitas membuktikan pergeseran kampung menuju kota mendegradasi banyak kearifan dan terbangunlah sebuah produk artifisial. Ruang-ruang kehidupan yang gamang. Perubahan yang cepat namun kosong.”

“Pemerintah memberikan infrastruktur yang baik agar supaya kampung terbuka dan menemukan hal-hal baru. Bertumbuh dan berkembang. Asas evolusi, ayah.”

“Evolusi yang adiluhung itu kalau dia berguna sebaik-baiknya untuk semua. Sekarang ayah kasih sebuah contoh: pendidikan modern masuk dan memberi banyak sumbangsih. Apakah sia-sia sumbangan itu? Tidak juga. Hanya saja banyak yang tidak tepat guna. Sekarang banyak petani menjual tanah, karena pendidikan mahal. Padahal di kampung kan sudah ada sekolah. Pendidikan modern sudah masuk kampung, Maria. Tapi, mereka yang petani ini sudah tau kalau pendidikan itu harus sebagus-bagusnya dengan embel-embel akreditasi. Ini kebutuhan dunia kerja, setelah kerja di kampung tidak bisa menopang arus perubahan yang mempengaruhi tuntutan hidup. Dan embel-embel pendidikan ini butuh uang banyak. Ya sudah, petani harus jual tanah karena meski hasil bumi sudah bisa lebih muda dijual ke pasar, harganya masih milik kulak.”

“Jadi soal perubahan kampung, menurut ayah harusnya bagaimana? Kampung dengan segala nilai yang dimilikinya jelas-jelas harus bertumbuh. Kampung harus berjalan maju, tidak harus terikat dalam batasan-batasan primodial yang kaku bukan, ayah?”
Ama Yohanes memahami jalan pikiran Maria. Perubahan memang berharga mahal. Seperti usia yang tidak menunggu keputusan manusia untuk berlalu. Tapi, ada hal-hal yang bisa dipertahankan, tidak boleh berubah. Dan kampung harusnya juga begitu. Tidak boleh berubah bukan berarti jatuh dalam ketertinggalan, karena konteks ketertinggalan hanya soal mampu melihat zaman atau tidak.

“Kau masih ingat pertama kali ayah membawamu pulang kampung, Maria?”

“I-ya.” Maria sedikit tidak yakin.

“Kau menangis seharian karena tidak ada pendingin ruangan di rumah kakek kala itu. Kau terbiasa dengan udara rumah yang sejuk oleh karena pendingin ruangan. Tapi itu kau tidak dapatkan saat di kampung. Dan apakah sekarang kau menangis atau mengeluh seperti dulu? Tidak! Ya, tidak sama sekali. Ayah malah senang kau mau menemani nenek sesekali ke kebun. Kau seperti menemukan dunia baru, padahal masih di tempat yang sama, dimana kau menangis hanya karena pendingin ruangan. Artinya apa? Kau sudah berdamai dengan suasana demikian itu.”

“Saya sudah dewasa ayah. Bukan anak-anak lagi.”

“Di situlah jawaban pertanyaanmu tadi. Itu yang ayah maksudkan dengan perubahan. Perubahan yang harusnya beradaptasi dengan kampung, bukan sebaliknya.”

“Jadi maksud ayah, jalan-jalan yang dibangun itu atau akses infrastruktur yang lebih baik sekarang ini sia-sia bagi kampung?”

“Tidak juga. Tapi semua ini tidak lebih dari akumulasi perubahan di kota. Kota membutuhkan lebih banyak. Dan mereka butuh akses yang lebih luas terhadap sumber pemenuhan kebutuhan-kebutuhan tersebut. Akses yang tidak adil tentunya. Memberikan ruang kepada orang kampung, tapi bukan orang kampung yang mengolah ruang tersebut.”

Maria mengangguk paham.

Demikian setahun lalu Maria berbicara dengan ayahnya, Ama Yohanes, tentang kampung yang sekarang berbentuk kotak-kotak kecil dalam paradigma pembangunan. Ada kotak yang menggambarkan betapa kampung benar-benar diperhatikan, namun kotak yang lain menunjukan betapa kampung hanya area tambang bagi kota. Sementara di kotak yang lebih besar berisi mantra-mantra sulap yang menghibur namun utopis, yang hilang sia-sia dalam kedangkalan berpikir kaum pemerhati.

Meskipun begitu Maria masih tidak setuju dengan ayahnya tentang pembangunan infrastruktur di kampung. Bagi Maria, pembangunan infrastruktur jelas wajib dibutuhkan dalam mengakses perubahan. Bagaimanapun pergerakan zaman tetaplah sebuah mesin besar yang membutuhkan penggerak yang besar pula. Negara-negara yang maju pesat adalah karena pembangunan dimulai dari kampung dan perputaran modal terjadi di kota. Kota menjadi sentra dari semua pembangunan terakumulasi dan bergeliat melahirkan kemungkinan-kemungkinan. Maria melihat bahwa terseok-seoknya kampung tidak hanya salah pada regresi pembangunan. Banyak masyarakat kampung tak mau berubah. Mereka diam di tempat. Seolah nyaman dengan kondisi yang begitu adanya. Setidaknya begitu menurut Maria.

Bagi Maria, perubahan zaman adalah kompensasi perjalanan waktu. Bagaimana mungkin menyalahkan waktu yang terus berputar? Maria teringat dialognya dengan Abdul, teman kuliahnya. Menurut Abdul, waktu bergerak sangat cepat namun perubahan bergerak sangat lambat. Kadang perubahan itu hanya fatamorgana di dalam rentang pergeseran waktu. Orang di Eropa mungkin sudah mengendarai kereta cepat tenaga surya, tapi dengan moda transportasi yang sama di India misalnya baru memikirkan bagaimana menggunakan kereta konvensional bertenaga listrik. Padahal masyarakat Eropa dan India hidup dalam jenjang waktu yang sama, zaman yang sama saat ini. Ironi pergeseran waktu adalah melahirkan tragedi perubahan, demikian Abdul. Pada akhirnya waktu dan perubahan hanyalah utopia kalau tidak mau dibilang ilusi pemikiran.

Maria hampir tidak memahami pemikiran Abdul yang sangat tergila-gila dengan Fisika kuantum itu. Maria mungkin memahami bahwa pergeseran waktu dan perubahan adalah dua hal yang realtif hubungannya. Perubahan bisa saja nisbi kalau tidak mau dibilang tidak ada sama sekali, sementara waktu bergerak maju searah. Tapi bukankah perubahan bisa saja hanya menjadi cemilan pemangku kepentingan? Stalin berkoar-koar tentang perubahan konsep komunisme yang lebih modern tapi mengadopsi cara-cara totaliter ala fasis. Timor Lorosae pernah menjadi ladang pembantaian oleh militer Indonesia dengan alasan mencegah gerakan sparatisme, merubah wajah Timor Lorosae menjadi lebih beradab. Masih banyak lagi kemasan perubahan yang tidak relevan dan cenderung politis. Destruktif dan mencederai posisi manusia sebagai yang empunya waktu dan perubahan.

Pada akhirnya Maria menemukan ujung semua itu - tentang kampung yang bergeliat, tentang waktu yang bergeser dan lahirnya perubahan – dalam konsep besar akumulasi modal. Kampung harus menanggung – seperti halnya tutur sang ayah – beban akumulasi modal itu sebagai konsekuensi media perubahan itu sendiri. Perubahan yang dirancang dan didesain oleh kelompok kepentingan tertentu demi langgengnya suatu sistem, bahkan serusak apapun sistem itu. Kampung dengan segala keterbatasannya harus berjuang mengikuti arus perubahan yang kadangkala melawan gerak waktu, kadangkala juga mempermainkan gerak waktu itu sendiri. Lalu apakah dengan begitu kampung harusnya melawan perubahan? Tidak. Kampung harus belajar mengalami perubahan itu. Tapi bukankah itu memposisikan kampung sebagai yang didikte perubahan bukan sebaliknya perubahan yang harusnya melibatkan diri dalam realitas kampung? Bagi Maria semua kemungkinan jawaban akan melahirkan kisah-kisah paradoksial yang sama. Bagaimanapun kepentingan adalah bentuk praksis dari ketamakan manusia yang setua umur bumi.

****

Hari ini akan hujan lagi. Awan sudah tebal sekali, hitam seperti kanopi raksasa di langit. Angin tidak berhembus dan hawa terasa lebih sejuk. Maria duduk di beranda rumah kakeknya, bersila di atas bale-bale dengan kwatek yang membungkus separuh tubuhnya. Di depannya sang nenek sedang mengupas pinang untuk dimakan dagingnya. Hari ini, Ina Prada tidak ke kebun untuk memberi makan babi-babinya. Hanya saja ama Niko, paman Maria, pergi ke kebun untuk mempersiapkan lahan tanam jagung. Kata ina Prada, panen jagung tahun kemarin sangat buruk. Semoga saja tahun ini lebih baik. Dengan begitu dia bisa menampung jagungnya di lumbung untuk persiapan musim kemarau dan diolah menjadi jagung titi. Beras sangat mahal di kampung, sementara kebutuhan hidup lain tak kalah mahal juga.

Sejurus kemudian hujan turun sangat deras. Maria teringat kota M, tempat tongkrongannya dan teman-temannya yang mungkin sekarang sedang menikmati segelas kopi di sudut sebuah kafe sambil menunggu hujan redah. Pada saat itu Ina Prada bertanya:
“Ina, kapan wisuda?”

“Setahun lagi, nek.”

“Nanti ina kerja di M dengan ayah dan ibu di sana?”

Maria tersenyum sejenak. Sekelompok anak-anak berlari riang di bawah guyuran hujan. Maria menatap keajaiban itu dengan sungguh. Kampung yang sepi namun riuh dengan keramaian otentik ini seperti membiusnya.

“Kalau Maria pulang kampung saja bagaimana, nek?”

Ina Prada tertawa memamerkan gigi hitamnya yang kontras dengan ampas daging buah pinang dan buah siri.

“Mau kerja apa di sini, ina?”

Malang, Desember 2015